Walet ampenen NTB

GEDUNG WALET AMPENAN NTB Bangunan di Ampenan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu serupa rumah walet lain yang mengapitnya. Dinding tebal dan terdiri atas 3 lantai. Umur bangunan bekas ruko itu diperkirakan 18 tahun. Yang berbeda, ‘Produksi sarang rumah itu paling banyak, bisa sekuintal setiap panen,’ bisik Sugeng Praminto, peternak walet di Mataram membuka rahasia. Malam di penghujung November 2008 Trubus dan Sugeng menyusuri setiap jalan di Ampenan, sekitar 5 km dari Mataram, ibukota NTB. Di sepanjang jalan kawasan pecinan itu bangunan-bangunan walet mudah dijumpai. Selain ada yang mempertahankan sebagai bagian ruko, banyak pula yang merombaknya menjadi bangunan walet modern. Suara CD pemikat walet dari tweeter sahut-menyahut. Singkat kata suasana di sana seperti sentra walet di kota Metro, Lampung. Bangunan penghasil sarang walet terbesar itu salah satu yang juga direnovasi pemiliknya. Dua dari tujuh lubang masuk si liur emas itu diperbesar 3 kali lipat dari ukuran sebelumnya, 90 cm x 30 cm. Lubang-lubang itu diplester semen. ‘Kalau sore walet-walet itu terlihat masuk ke lubang besar itu,’ ujar Sugeng yang memiliki rumah walet 2 lantai di Switha, Mataram, itu. Tidak berkamar Untuk membuktikan bangunan itu istimewa, 2 hari kemudian Trubus datang tepat sore hari saat walet mulai masuk. Selama 1 jam mengamati dari ruko di seberang bangunan itu, tak terhitung jumlah walet masuk ke dalamnya. Langit di sekitar rumah itu menghitam oleh walet-walet yang terbang. Kontras bila dibandingkan bangunan walet berjarak sekitar 25 m ke arah pelabuhan Ampenan. Yang terbang dan masuk puluhan walet saja. Sulit mengungkap rahasia walet betah bersarang di sana. Yanto – nama samaran – penanggung jawab rumah itu lebih suka menjawab tidak tahu saat ditanya Trubus. Namun, isi bangunan sedikit tersingkap. Tidak ada kamar seperti rumah-rumah walet di Jawa. Ruangan model hall itu membuat walet lebih leluasa bergerak di roving area, sebelum beristirahat di sirip-sirip kayu di lantai bawah. ‘Tanpa kamar juga membuat sirkulasi udara dan sinar matahari lebih merata di dalamnya. Ini disukai walet dan mulai banyak dipakai di rumah walet modern,’ kata Harry K Nugroho, praktisi walet di Jakarta Utara. Sejatinya tak hanya Ampenan yang penuh sesak oleh bangunan walet di Lombok. Di bilangan Cakranegara, di pusat kota, terlihat pemandangan serupa. Menurut Tjie, pengusaha emas yang 2 lantai tokonya disulap menjadi rumah walet, di Cakranegara bangunan walet marak berdiri sejak 1990-an. Saat itu jumlahnya belasan. ‘Tapi tidak sehebat sekarang yang tiap ruko ada rumah waletnya,’ kata Tjie yang sudah memetik 8 kg sarang Collocalia fuciphaga dari rumah yang dibangun 3 tahun silam itu. Panjang jalan Cakranegara sekitar 2 km dengan puluhan rumah walet ‘berkedok’ ruko. Rumah tertua Tjie mengungkapkan Cakranegara memiliki rumah walet istimewa. ‘Jika di Ampenan ada yang panen sampai puluhan kilo sarang, di sini ada rumah walet tertua,’ katanya. Bangunan walet yang dimaksud, terletak di perempatan Jalan Selaparang – nama lain Lombok. Bangunan 1 lantai itu berdinding semen. Atapnya seng yang sudah berkarat digerogoti umur. Hanya ada 2 lubang masuk walet di situ. Lubang itu sebenarnya ventilasi dari pintu. ‘Saya tidak tahu produksinya, tapi bangunan itu sudah ada sejak saya kecil,’ ujar Tjie yang menginjak usia 70 tahun. Di luar kedua sentra itu, bangunan walet mulai menjamur pula di Swithe. Lokasinya di Kecamatan Sendobaya, sekitar 5 km dari pusat kota itu semula hanya kompleks pertokoan. Namun, kini belasan rumah walet berdiri tegak di sana. ‘Bangunan-bangunan itu mulai ada sejak 3 tahun lalu,’ kata Sugeng yang berinvestasi Rp125-juta untuk membangun rumah walet 9 m x 13 m setinggi 2 lantai. Seperti di Ampenan dan Cakranegara, walet langsung masuk, tidak didahului oleh sriti. ‘Dalam setahun saja sudah bisa panen 1,6 kg sarang,’ kata pegawai Departemen Pekerjaan Umum NTB itu. Pakan melimpah Populernya walet di Lombok tak lepas dari melimpahnya sumber pakan. Sawah dan hutan yang menjadi sumber serangga masih tersedia. Di Ampenan menuju objek wisata Pantai Senggigi, sekitar 3 km menghampar sawah dan kebun kelapa. Beberapa bukit menghijau tak jauh dari kebun-kebun kelapa itu. Demikian pula di Swithe dan Cakranegara. Di kedua tempat itu walet mencari pakan ke arah selatan yang masih disesaki sawah dan ladang. Menurut Sugeng, polusi udara yang kecil juga turut mendukung walet betah tinggal. Rumah walet di Lombok pun tidak fanatik memakai CD pemikat walet. Di Cakranegara nyaris tidak terdengar suara pemikat walet dari tweeter. Pengabutan dalam rumah untuk mencapai kelembapan 80 – 90% yang diinginkan walet jarang dipakai. Maklum berdasarkan pengukuran Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi kelembapan harian di NTB berkisar 70 – 90% dengan curah hujan 1.500 – 2.000 mm/tahun. Kondisi itu cukup nyaman bagi walet. Sebagai ganti pengabutan, peternak hanya memperbanyak lubang ventilasi dari PVC. Untuk bidang dinding seluas daun pintu dibuat 6 – 8 lubang berdiameter 10 cm. Soal pasar? Sejauh ini tak sulit menjual produksi sarang walet dari Lombok. Banyak penampung setempat berebut sarang. Itu belum termasuk pengepul dari Surabaya. Agustus 2008 dari 2,4 kg sarang Sugeng menangguk pendapatan Rp13,5-juta. Harga normal sekilo sarang Rp10-juta – Rp11-juta. ‘Agak rendah karena sarang yang dijual masih kotor, banyak bulunya,’ ujar Sugeng. Toh pendapatan itu sudah dianggap besar oleh Sugeng yang baru mencicipi manisnya rupiah dari si liur emas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: